3 November 2012


SEJENIS ehem-ehem mana yang berani-beraninya mengusulkan supaya lirik lagu nasional kebanggaan RI diubah. Apalagi dengan alasan yang ‘apa-apaan’: agar sesuai dengan kekinian. Hancurlah sudah sakralitas lagu ini kalau pemerintah mengabulkan usulan tersebut. sebagian lirik lagu ini sebenarnya dengan kurang ajar sudah diubah pada saat anak-anak sekolah membawakan lagu tersebut di Museum Sumpah Pemuda untuk merayakan Hari Sumpah Pemuda. (28/10/2012).



Di antara sekian banyak isu yang gue tulis, baru kali ini gue merasa agak-agak geram. Soalnya nggak hanya berhubungan dengan estetika kesenian, tapi juga tentang kemaslahatan akan hasil budaya. Entah, dengan alasan semiluhur atau amat berguna untuk kemaslahatan rakyat. Tapi, apa dengan mengubah sebagian lirik akan membuat Indonesia sejahtera? Tentu saja tidak. generasi anak muda baru mungkin akan diajari para ‘dedengkotnya’ dalam hal penanganan karya cipta bernilai luhur yang seenak udelnya sendiri. Barangkali kalau hal ini terjadi, akan menjadi semacam pionir buat lagu nasional lain untuk mengalami perubahan lirik dengan alasan kekinian. Oh, demi Emma Watson! Dan kita semua akan kembali ditertawakan orang-orang di negara lain.

Betapa hati ini tercabik dan sedih mendengar hal tersebut. Bagi gue, ini hanyalah cermin dari carut-marutnya (sebagian) orang-orang kita dalam memperlihatkan hasil budaya mereka sendiri. Cuma ada di Indonesia mungkin, seorang koruptor bisa kembali menjabat sebagai pejabat tinggi. Mungkin juga Cuma di Indonesia, orang-orang DPR jauh-jauh studi banding Cuma buat mastiin apa lambang buat logo yang akan dipake sama dengan logo negara lain. dan sekarang ada sekelompok orang yang mengusulkan perubahan lirik lagu Indonesia Raya? Sedih pokoknya. *Peluk Emma Watson*.

Konyol Usul Untuk Merubah Lirik Lagu Indonesia

Siapa sih yang ngusulin? Adalah Eddy Herwani Didied Mahaswara, ketua umum Lembaga Musik Indonesia. Perlu meng-googlingnya untuk tahu apa dan siapa Didied.

Eddy Herwani Didied Mahaswara

Dan Eddy Herwani berkata di Museum Sumpah Pemuda pada media: “Saya tidak pernah memikirkan itu. Setelah ini saya akan usulkan ini ke Presiden. Saya juga sudah usul ke MPR, semoga bisa dibahas. Ini tidak ada hubungannya dnegan nasionalisme atau tidak. ini masalah tafsir. Perkara diterima atau tidak itu urusan belakangan.”

Bagaimana dengan tafsiran menurutnya? Dia berkata: “Disanalah aku beridir itu seperti berdiri di awang-awang. Tidak sesuai dengan konteks sekarang. Dulu kata-kata itu disamakan untuk mengelabui polisi Belanda. Tapi kini setelah merdeka untuk apa disamakan lagi.” katanya.

Lalu pertanyaan gue, kenapa baru sekarang diusilinnya, Om? Di tahun 2012 pula.

Tapi dalam kesempatan perayaan Sumpah Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, bait lirik yang diganti itu adalah.

Lirik asli: Disalah aku berdiri, jadi pandu ibuku
Diganti menjadi: Dengan sigap aku bersiap, tuk membela negeriku

Sang pengusul mengatakan bahwa frasa ‘jadi pandu ibuku’ adalah multitafsir, sehingga tafsiran yang ‘mungkin’ adalah ‘memandu ibu-ibu’ (mungkin sejenis tour guid, yang memandu seorang tua bangka ke neraka_. Entah standar apa yang dipatok komunitas pengusul tersebut. kalau sadar semua kata itu multitafsir alias ambigu, kenapa tidak menafsirkan celah yang lebih mungkin.

Menurut saya, ‘disanalah aku berdiri’ berarti kita menanjakkan kaki di Indonesia yang sudah merdeka. Sementara ‘jadi pandu ibuku’, berari menjadi panduan atau pengangan kita bagai ibu. Jadi, jika memakai pungtusi bisa saja menjadi ‘jadi pandu, ibuku’. Atau ‘jadi pandu (bagai) ibuku’. Sebab seorang ibu biasanya memandu anaknya.

Atau yang lebih mungkin adalah ‘jadi pandu ibuku’ berarti indonesia yang sudah merdeka inimemandu ibu dalam artian tanah yang kita pijak secara geografis. Artinya pada saat lagu ini diciptakan, Indonesia belum merdeka, dengan kata indonesia raya sebagai (keinginan) Indonesia untuk merdeka. Maka akan mengumpulkan kota/daerah/provinsi lain ke dalam misi yang sama (persatuan).

Dan sekarang, bagian itu diusulkan untuk diganti? Bahkan katanya, sudah ada sejenis panitia khusus untuk perevisian lirik yang kelak akan mengalami kemungkinan pengesahan. Ah, kenapa tidak urus hal urgen dulu? Atau bolehlah yah, bikin lagu ‘kebangsaan’ buat koruptor?

Dalam harian Replubika, Eddy didukung oleh Adhie Massardi, yang berkata “....tak ada masalah bila lirik lagu Indonesia Raya direvisi. Lagu Indonesia diciptakan dalam situasi darurat yang berbeda dengan kondisi sekarang. Meskipun demikian yang semangat yang terdapat dalam lagu kebangsaan tersebut harus membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Konstitusi saja bisa diubah. Yang penting ini menjadi gerakan kesadaran bernegara dan berkonstitusi. Dalam waktu dekat akan ditetapkan panitia yang bertugas merevisi lagu Indonesia Raya. Hasil revisi akan menjadi usulan yang disampaikan ke petinggi negara.”

Perlu diketahui bahwa lagu ini diciptakan untuk Kongres pemuda pada 28 Oktober 1928. Lagu yang ditulis oleh W.R Soepratman ini mendapat sambutan hangat dan dijadikan lagu penutup dan pembuka setiap kali pertemuan antarpemuda Indonesia diberlangsungkan. Bahkan pada pemerintahan Belanda saat menjajah meminta lagu itu diubah dari segi lirik. Beruntung para pemuda kita mempertahankan kekonsistenan lagu mahaluhur itu.

Dan ditahun ini ada sekelompok orang yang ingin lagu itu diganti hanya demi kekinian? Oh My God! Sekira tahun 2009, ada oknum yang mengubah lagu kebangsaan kita yang konon dilakukan orang Malaysia. Hal ini membakar kemarahan orang Indonesia yang memang gampang kebakaran jengot. Maksudnya, ngapain isu adu domba itu mendapat sulutan kemarahan yang signifikan. Ini berbeda saat isu pergantian lirik diusulkan orang Indonesia sendiri. Mungkin hanya saya dan sebagian yang nggak terima, sementara kalian atau mungkin mereka, nganggap ini hal biasa. Entahlah, saat ini gue cuma bilang....

                  ========
PRIHATIN
========
Referensi: 



Reactions:

0 comments: