15 Desember 2011

Permainan Tradisional

Permainan tradisional anak-anak pada jaman dulu sudah hampir terlupakan dan sekarang sering kita jumpai permainan modern seperti halnya game online. Permainan modern ini biasanya kita jumpai di perkotaan. Jelas sekali permainan modern jaman sekarang lebih diminati oleh anak-anak. Permainan itu jelas banyak sekali akibatnya, seperti kecanduan, lemah otak, daya ingat lemah, lupa akan kewajiban, pemborosan dan masih banyak lagi.

Jarang kita lihat mainan tradisional dipasar-pasar yang biasanya menjual mainan dari bahan plastik, jaman dulu permainan tradisional biasanya memakai kayu atau rotan. Jaman semakin modern mungkin itu yang dipikirkan anak muda jaman sekarang, kewajiban mereka untuk menyesuaikan, tetapi tidak untuk permainan, permainan modern kini banyak sebab dan akibat. Berbeda dengan mainan tradisional jaman dulu, banyak manfaat dari banyak permainan tradisional yang berbeda-beda.
-     Anak menjadi lebih kratif, biasanya permainan tradisional dibuat sendiri oleh pemainnya. Sebab itu mereka menjadi lebih kreatif dalam menciptakan alat-alat permainan yang terjangkau tanpa membeli dan pastinya hemat.
Selain itu, permainan tradisional tidak memakai aturan tertulis, biasanya mereka dengan mudah merubah peraturan untuk permainan mereka asal ada kesepakan dengan pemain lainnya, disini kita lihat kekompakan dan kreatifitas mereka terasa, karena mereka kreatif dalam membuat peraturan.

-          Berguna sekali permainan tradisional ini, permainan ini dapat juga dipergunakan sebagai terapi terhadap anak. Mereka berteriak, tertawa lepas dan bergerak bebas. Kegiatan semacam itu dapat diperguanakn sebagai terapi bagi anak yang membutuhkannya.

-         Hampir atau banyak permainan tradisional yang dilalukan secara berkelompok, seperti:

Bebentengan, anjang-anjangan, kasti dan adang-adangan. Permainan tersebut mampu menimbulkan rasa nyaman saat berkelompok dan mengasah emosi sehingga timbul toleransi dan empati terhadap orang lain.

-   Permainan tradisional mampu mengembangkan kecerdasan logita atau cara berhitung atau menebak, tahu langkah yang ingin diambil dan pastinya otak akan diasah. Seperti permainan congklak, engklek, bola bekel dan tebak-tebakkan.

-    Menegembangkan kecerdasan kinestetik anak, dalam perminan tradisional tidak sedikit pemain yang harus melakukan lompatan, berlari, melangkah, menari, berputar, dan banyak gerakan lainnya. Seperti, enggrang, adang-adangan, lompat tali, sorodot gaplok dan lain sebagainya.

-          Mengembangkan  kecerdasan natural bagi anak. Alat tradisional biasanya teebuat dari bahan yang sudah tersedia oleh alam biasanya terbuat dari tanah, tumbuhan, batu, pasir, dan banyak lagi. Kegiatan tersebut membuat anak menyatu dengan alam dan bisa membuat untuk permainan yang mengasyikan. Permainannya seperti  mobil-mobilan tradisional terbuat dari kulit jeruk biasanya jeruk bali atau sejenisnya, permainan enggrang yang terbuat dari bambu, sepak takraw terbuat dari rotan.

-          Mengembangkan kecerdasan akan pengetahuan musik tradisional daerah dalam permainan. Biasanya permainan tradisional banyak yang menggunakan lagu-lagu tradisional biasanya tiap daerah berbeda-beda. Seperti ucang-ucang Angge, berbalas pantun, alat musik calung.

-          Dalam permainan tradsional mengenal konsep adanya menang dan kalah, meskipun manang atau kalah mereka tetap bersenang senang, dan ada perasaan senang tersendiri saat menang atau kalah.

-          Secara tidak langsung pemain yang belum bisa, hanya melihat mereka megerti apa yang dimainkan rata-rata permainan tradsional mudah untuk dimainkan dan dipahami, meskipun usia balita sekalipun.

Dalam setiap nama permainan yang unik terdapat history tersendiri dalam permainan atau penamanya.
Seperti hal nya CONGKLAK. Di  Indonesia, congklak dikenal dengan nama yang berbeda dari daerah ke daerah. Nama yang paling umum, congklak, diambil dari shell Cowrie, yang biasa digunakan untuk Bermain Congklak. Di Malaysia, permainan ini dikenal sebagai congkak, nama yang digunakan di provinsi Sumatera banyak juga. Di Jawa, permainan ini dikenal sebagai congklak, dakon, dhakon atau dhakonan. Di Lampung, permainan ini disebut, dentuman lamban. Di Sulawesi, permainan ini disebut sebagai Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang dan Nogarata.

Referensi historis untuk congklak mengacu pada permainan yang dimainkan oleh gadis muda bangsawan Jawa. Hal ini paling mungkin bahwa pedagang asing, karena kontak dekat mereka dengan kelas atas, diperkenalkan congklak kepada mereka. Dengan berlalunya waktu, Congklak 'popularitas tumbuh sampai sekarang yang banyak dimainkan oleh rakyat biasa juga. Di sebagian besar wilayah, congklak bermain adalah terbatas pada gadis-gadis muda, remaja dan wanita di waktu luang mereka dan dilihat sebagai 'permainan gadis'. Dalam hanya beberapa daerah yang congklak dimainkan oleh laki-laki dan anak laki-laki juga.

Di Sulawesi, secara historis, permainan hanya disediakan untuk bermain hanya selama periode berduka, setelah kematian orang yang dicintai. Ini dianggap tabu untuk bermain game pada waktu lainnya. Di Jawa Tengah, dalam pra-sejarah, congklak digunakan oleh petani untuk menghitung musim, untuk tahu kapan menanam dan panen, serta untuk memprediksi masa depan.
Reactions:

0 comments: